To Love is To Give

Matahari Jum’at hampir saja tenggelam ketika kami berangkat menuju kawasan Pollokshields, sebuah daerah dipinggiran kota Glasgow. saat itu adalah kali pertama saya mengikuti halaqah ilmiyyah dengan saudari-saudari penduduk Glasgow keturunan arab dan pakistan. meskipun itu adalah kali pertama saya mengikuti pengajian itu, tapi sebenarnya pengajian tersebut sudah berlangsung selama sekali (jadi alhamdulillah saya belum tertinggal banyak materi). pada hari itu kami membahas hadits dan sirah. pada posting kali ini saya hanya akan menguraikan topik pertama yaitu tentang hadits, adapun hadits yang kami bahas adalah:

none of you is a true believer until you love your brother what you love to yourself”

Sungguh hadits ini membuat saya banyak-banyak introspeksi, apakah selama ini saya sudah memberikan hal yang paling saya cintai kepada saudara saya? dan apakah saya telah mencurahkan sedikit waktu saya untuk memikirkan kebutuhan saudara-saudara saya sesama warga negara Indonesia dan sesama muslim?

dalam konteks kekinian , saat kehidupan kita didominasi oleh paham ekonomi neoclassical dimana maksimalisasi utilitas dan profit bertindak sebagai degup jantung dan materialime sebagai nafas kehidupan, sungguhlah berat untuk memikirkan orang lain. Manusia bertindak untuk kepuasannya sendiri seakan seluruh hal yang ada di dunia ini tidak akan dapat memenuhi kebutuhannya.

Padahal, Islam mengajarkan kita untuk bersikap selfless, bukan berarti diri kita sendiri nelongso karena kita juga tidak diperbolehkan untuk menyakiti diri sendiri, yang perlu kita terapkan adalah bersyukur dengan apa yang kita miliki dan berbagi dengan saudara kita. pada kesempatan diskusi Jum’at itu, sister pemateri mencontohkan Abu Bakar Radiyallahuanhu yang menggunakan waktu istirahatnya untuk membuat roti dan dibagikan dengan tetangganya. kemudian saya berfikir, saya masak aja ga pernah gimana mau bagi orang lain 😦 disitulah Islam mengajarkan kita untuk menjadi self-sufficient, menjadi kaya itu sangat dianjurkan, bahkan Rasulullah dan para sahabat adalah prominent rich person at that time, tapi mereka memanfaatkan kekayaan mereka untuk umat. lihatlah Utsman bin Affan yang membeli sumur dari seorang yahudi senilai 20,000 dirham untuk memenuhi kebutuhan kaum Muslim. Kemudian Abdurrahman bin Auf yang menyedekahkan 500 ekor kuda tempur lengkap dengan senjata dan selalu masih merasa apa yang diberikannya tidak seberapa dibandingkan amalan sahabat-sahabat lain.

things to put in mind, meskipun secara materi bisa dibilang kita belum mampu untuk berkontribusi besar untuk umat, tapi cobalah untuk selfless, pahami keadaan sekitar dan berikan apa yang kita miliki untuk saudara yang kita sayang terlebih lagi orangtua kita. to love is to give. jika tidak ada materi, kita dapat memberikan waktu kita untuk sekedar bersilaturahim kepada saudara kita, jika tidak sempat paling tidak kita dapat memberikan salam dan senyuman saat bertemu saudara kita. jika berbagi itu menjadi sebuah kebiasaan, saya merasa permasalahan kemiskinan yang terjadi di negara kita mungkin dapat terurai perlahan-lahan. disamping itu Allah pasti akan memberikan pahala yang besar jika kita mampu dengan ikhlas mencintai dan berbagi dengan saudara kita.

Have a nice weekend folks 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s