Materialism at its worst

Malam itu saya sedang berbincang hangat dengan teman saya untuk melepas kejenuhan di reading weeks, seperti biasa kalau kami ngobrol hal yang dibicarakan ga jauh-jauh dari gosip :D. bermula dari curhatan saya tentang pelajaran social and environmental accounting  yang reading listnya ada 83 biji, tiba-tiba kami nyangkut ke permasalahan terkini bangsa Indonesia *hazek* teman saya ini kebetulan memiliki background ekonomi pembangunan, jadi kalau bergosip tentang Indonesia pasti semangat banget. saya yang curhat pertama kalau saya punya cita-cita kerja di NGO, mengingat dan menimbang kayanya permasalahan yang ada di Indonesia ini sulit kalau 100% harus ditangani pemerintah. Teman saya ini bilang, di Indonesia ini, NGO yang berkembang itu adalah NGO yang dimiliki asing, misalnya NGO-NGO yang menangani masalah Tsunami , predominantly dijalankan oleh orang luar negeri dan menerima dana dari luar negeri juga, sementara untuk NGO lokal, sumber dananya terbatas, kebanyakan hanya mengandalkan dari donatur lokal. Faktanya, kemampuan donasi masyarakat Indonesia tentu jauh-jauh lebih rendah dibandingkan kemampuan donatur-donatur asing. Sehingga tak heran, NGO lokal kurang berkembang (dalam artian: program yang dilakukan terbatas hingga pada akhirnya berusaha sekuat tenaga untuk me-maintain donatur ketimbang membuat program yang inovatif untuk mengatasi permasalahan sosial).

Sangat jelas, kemampuan ekonomi masyarakat Indonesia yang sangat rendah dan sikap konsumerisme sebagian orang mendisentif penyelesaian masalah sosial itu sendiri. pandangan saya pribadi, bagi masyarakat yang makan saja tidak cukup, tentunya tidak terpikir untuk menyelesaikan permasalahan lingkungan sekitarnya. Jangankan, untuk masyarakat yang tidak mempunyai pekerjaan, untuk masyarakat kelas menengah saja, ditengah-tengah inflasi yang terus meningkat seperti saat ini, tentu juga masih berfikir untuk kebutuhan sendiri. Hal yang memperburuk keadaan adalah, bagi mereka yang berlebih, sebagian mengedepankan pola hidup konsumerismenya, seperti belanja baju-baju mahal, fancy dinner setiap weekend, atau gonta-ganti tiap ada gadget terbaru keluar. meskipun saya belum pernah melakukan riset empiris, tapi saya yakin, sangat sedikit yang memiliki kepedulian terhadap permasalahan sosial. disatu sisi, saya salut dengan beberapa teman saya yang sudah berinisiatif untuk melakukan perubahan sosial melalui aktivitas-aktivitas voluntir mereka. Kak Risma dengan BeriBuku, Pipit dkk dengan gerakan sedekah brutal, Isni dengan Sekolah Bermain Matahari. Meskipun skop dari gerakan-gerakan voluntir tersebut saat ini masih sangat terbatas, tapi saya percaya gerakan ini akan menggurita se0820e747fc00767dec100fba5e5f4142af773c3bcadf04aaba75ef6631be669eiring dengan timbulnya kepedulian masyarakat Indonesia terhadap permasalahan bangsanya.

Balik lagi ke permasalahan kepedulian sosial masyarakat Indonesia, yang membuat saya tidak habis pikir adalah, kenapa bisa-bisanya materialisme ini merasuki jiwa masyarakat kita. kaum kapitalis berlomba-lomba untuk melanggengkan hegemoninya dengan melakukan segala cara, salah satunya adalah dengan beroperasi tanpa mempedulikan lingkungan sekitar. tanpa mempedulikan upah buruh yang tidak layak, tanpa peduli kalau pembangunan pabrik mereka dapat mencemari lingkungan, tanpa peduli kalau produk yang mereka hasilkan dapat merusak kesehatan. Pemerintah pun tampaknya silent as dead menyikapi tindak tanduk perusahaan yang seperti ini, bahkan mereka cenderung tidak berani menunjukan wibawanya mengingat ancaman perusahaan akan kabur dan kehilangan pemasukan pajak bila pemerintah mengeluarkan peraturan yang tidak menunjang bisnis mereka. Meskipun praktik CSR saat ini sedang ramai-ramainya digaungkan, sungguh, praktik CSR yang ada tidak lebih dari window dressing, membuat perusahaan tampak legitimate dihadapan publik tanpa memberikan aksi nyata (I have read so many papers on this). Sangat jelas bahwa baik pemerintah, bisnis, dan masyarakat Indonesia dibelenggu oleh materialisme, sehingga lingkaran setan yang ada saat ini tidak dapat terputus.

saya sangat sedih ketika membaca buku Psikologi Bersama pak Komaruddin Hidayat, bahwa salah satu unsur dari kebudayaan Indonesia adalah ampas kapitalisme sehingga menghasilkan perilaku konsumerisme. Ya, konsumerisme disegala elemen civil society, masyarakat, bisnis, dan pemerintah. Teman diskusi sayapun berkeras bahwa sangat sulit untuk mengabaikan permasalahan ekonomi. but I think that we have to go beyond so-called neo-classics economics to breakthrough the plethora of social problems. pada posting di website ini sebelumnya saya pernah bertutur tentang perlunya self-sufficiency, istilah yang saya dengar pada Program Kepemimpinan LPDP adalah, selesai dengan diri sendiri. dalam artian kita sudah bisa mengatasi permasalahan-permasalahan pribadi kita untuk selanjutnya turun untuk mengurai permasalahan sosial yang lebih kompleks. Tapi kapan saatnya? apakah saat ini saya telah merasa cukup dengan diri saya sendiri? mungkin yang dapat saya lakukan saat ini minimal adalah belajar dengan sungguh-sungguh agar tidak sia-sia apa yang telah difasilitasi negara saat ini. jika semangat saya sedang jatuh, mungkin inilah yang perlu saya ingat, bahwa permasalahan saya tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan realita yang ada.

Terakhir, meskipun saat ini saya sering mendengar kecaman terhadap Pemerintahan saat ini atas naiknya harga bahan-bahan pokok dan tarif transportasi dan saya paham bahwa kritik dari masyarakat itu adalah penting sebagai dinamika dari kehidupan demokrasi, yang perlu saya sendiri evaluasi adalah, apakah saya sudah menunjukan usaha maksimum saya untuk negara ini dan apakah saya sudah pernah mendoakan pemerintah dalam sholat-sholat saya.

*harap maklum rada random*

UofG Main Library

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s